News

Sarang Burung Walet Karantina Medan Menjadi Primadona Ekspor Tahun 2022

Sebarkan:

 

Sarang Burung Walet Asal Sumut Capai Triliunan Rupiah dan Menjadi Primadona Ekspor Tahun 2022. (Ft: Dok Karantina Medan/Gibson) 

MEDAN| radarsumut: 

  Kinerja Karantina Pertanian Medan terus meningkat. Buktinya, Sarang Burung Walet Asal Sumut Capai Triliunan Rupiah dan Menjadi Primadona Ekspor Tahun 2022. Di tahun 2023, Karantina Medan semakin meningkatkan ekspor. Untuk itu, dengan rutin memberi dukungan seperti bimbingan Desa Binaan Gratieks, kemudian Klinik Ekspor dan Monitoring.

 "Semoga Tahun 2023 capaian ekspor komoditas pertanian khususnya SBW dari Sumatera Utara (Sumut) terus meningkat," tutur Kepala Karantina Pertanian Medan Dr.Lenny Hartati Harahap. 

  Dikatakannya, Tingginya kinerja ekspor berdampak positif bagi perekonomian suatu negara. Sarang burung walet merupakan komoditas asal subsektor peternakan yang menjadi prioritas baru dalam target ekspor Indonesia. Pada tahun 2011 sampai tahun  2020, sarang burung walet masih menempati posisi nilai ekspor tertinggi dalam komoditas ekspor peternakan.  Indonesia menempati angka 540,7 juta US$ atau sekitar 55% dari total nilai ekspor dunia. 

 Adanya tren peningkatan ekspor sarang burung walet Indonesia serta masih tingginya potensi pasar yang ditunjukkan oleh peningkatan konsumsi mengharuskan Indonesia sebagai salah satu produsen utama sarang burung walet.  

  Untuk meraih peluang pasar tersebut, Badan Karantina Pertanian melalui Karantina Pertanian Medan rutin melakukan penelitian yang  bertujuan untuk mengetahui keunggulan komparatif dan posisi daya saing ekspor sarang burung walet Indonesia di negara tujuan utama, dengan metode penelitian adalah Revealed Comparative Advantage yang tujuannya untuk menganalisis keunggulan komparatif dan Export Product Dynamics serta  menganalisis posisi daya saing. 

 "Hasil analisis menunjukkan bahwa sarang burung walet Indonesia memiliki keunggulan komparatif dan berdaya saing tinggi di lima negara tujuan utama seperti Hongkong, Tiongkok, Amerika Serikat, Vietnam, dan Singapura, serta lebih unggul dibandingkan negara pesaing utamanya yaitu Malaysia", ungkapnya.

  Peranan perdagangan Internasional dalam perekonomian nasional semakin penting, salah satunya dari komoditas ekspor subsector pertanian yang menjadi komoditas unggulan Indonesia seperti sarang burung wallet (SBW). Indonesia merupakan salah satu penghasil dan pengekspor SBW terbesar di dunia. 

  Secara keseluruhan perbandingan kinerja ekspor di tahun 2022 Mengalami Peningkatan 21.65 % dibanding tahun 2021. Hal ini dilihat  dari semakin pulihnya perekonomian dunia dari wabah pandemi Covid19, sehingga permintaan pasar dari negara tujuan semakin meningkat. 

 Dilihat dari aplikasi IQFAST Badan Karantina Pertanian, data operasional ekspor khususnya sarang burung walet melalui Karantina Pertanian Medan di periode Januari sampai Oktober tahun 2021 dengan frekuensi 1.293 kali dengan nilai ekonomi mencapai Rp.4,386 triliun, sedangkan untuk periode Januari sampai September 2022 dengan frekuensi 1.573 kali dengan nilai ekonominya mencapai Rp.6,026 triliun, tujuan China, Australia, Prancis, Hongkong, Vietnam, Amerika, Singapore,Taiwan.

 Sedangkan khusus untuk Tiongkok sendiri kegiatan ekspor sarang burung walet juga terjadi peningkatan ditahun 2022 sampai dengan September yaitu meningkatnya volume sebanyak 27.407,20 Kg dengan 3,71 % dibandingan tahun 2021, volume 26.426,21 Kg. Untuk frekuensi pada tahun 2022 berjumlah 147 dan tahun 2021 sebanyak 177 kali, hal ini terjadi penurunan. Tetapi untuk nilai ekspor komoditas pada tahuan 2022 terjadi peningkatan 3.71 % dengan nilai ekonominya mencapai Rp.548 milyar sedangkan pada tahun 2021 hanya mencapai Rp.528 milyar. 
Meningkatnya ekspor sarang burung walet ke negara tujuan berbanding lurus dengan meningkat pula jumlah produksi, serta permintaannya,"jelasnya. 

  Secara terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian, Bambang mengungkapkan bahwa sarang burung walet merupakan salah satu komoditas ekspor yang mempunyai nilai jual tinggi. Selain itu juga menjadi salah satu komoditas ekspor strategis nasional yang mengalami peningkatan permintaan setiap tahunnya dari berbagai negara tujuan ekspor.  

 Hal ini sesuai dengan arahan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL, red) untuk terus meningkatkan ekspor pertanian Indonesia melalui program Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks) Kementerian Pertanian. (Rel/Gibson) 


Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini