-->
News

Mengubah Tren "Thrifting" Menjadi Strategi Finansial Cerdas

Sebarkan:

 

Thrifting (ist)


Medan| radarsumut: 

Bagi Gen Z, kesadaran ekologis dan efisiensi anggaran bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Tren thrifting dan pre-loved membuktikan bahwa bergaya modis bisa sejalan dengan penyelamatan bumi dan dompet.

Selama bertahun-tahun, industri fesyen cepat (fast fashion) dituduh sebagai salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia sekaligus penggerak perilaku konsumtif yang menguras rekening anak muda. Namun, di tangan Generasi Z, narasi ini mengalami perombakan total. 
Didorong oleh kesadaran krisis iklim yang tinggi (eco-conscious), anak muda hari ini menjadi pelopor kebangkitan tren thrifting dan pasar barang bekas berkualitas (pre-loved). Mereka memandang pakaian bukan sekadar barang habis pakai, melainkan aset sirkular yang memiliki nilai ekonomi berkelanjutan.

Pergeseran perilaku ini melahirkan sebuah fenomena literasi keuangan baru yang sangat menarik, yaitu penggabungan antara etika konsumsi dan kecerdikan berbisnis mikro. 

Gen Z tidak hanya aktif membeli pakaian bekas untuk menekan pengeluaran gaya hidup hingga tujuh puluh persen, tetapi banyak dari mereka yang dengan cerdik memutar lemari pakaian mereka menjadi sumber pendapatan sampingan (side hustle). Barang-barang yang sudah tidak terpakai dikurasi ulang, difoto secara estetik, lalu dijual kembali melalui platform lokapasar digital atau media sosial.

Dalam menjalankan model Ekonomi sirkular mini ini, kemudahan manajemen arus kas menjadi kunci utama. Di sinilah platform perbankan digital blu by BCA Digital hadir mendukung gaya hidup ramah lingkungan sekaligus efisiensi finansial nasabahnya.

Melalui fitur bluSubAccount dan bluSaving, para pegiat fesyen sirkular dapat dengan mudah memisahkan antara dana belanja pribadi dengan modal usaha kecil-kecilan mereka. Saldo hasil penjualan barang pre-loved bisa langsung dikunci ke pos tabungan khusus untuk diinvestasikan kembali, tanpa perlu bercampur dengan uang makan harian atau operasional rutin.
Integrasi teknologi perbankan yang fleksibel memungkinkan proses transaksi pembeli dan penjual berlangsung transparan, instan, dan bebas biaya admin yang memberatkan.

 Literasi keuangan di kalangan Gen Z akhirnya menemukan bentuknya yang paling progresif: ketika keputusan untuk berhemat tidak berakar dari keterpaksaan, melainkan dari pilihan sadar untuk merawat bumi.
Dengan ekosistem finansial digital yang mendukung perputaran ekonomi sirkular, bergaya modis, peduli lingkungan, dan menjaga kesehatan arus kas menjadi satu kesatuan strategi hidup yang cerdas dan berdaya. (**) 


Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini